Dugaan Penipuan Berkedok Event ORARI di Bitung: Panitia Tarsius Field Day Disorot, Dana Peserta Tak Dikembalikan
M’Bhargo, Sulut (Bitung)- Tarsius Field Day, sebuah kegiatan amatir radio yang berlangsung di Kota Bitung pada 5–7 Desember 2025, memicu protes luas di komunitas Amatir Radio Indonesia (ORARI). Peserta kegiatan menilai event tersebut tidak sesuai informasi awal, mengabaikan regulasi frekuensi, serta merugikan peserta secara finansial dan logistik. Informasi ini terungkap berdasarkan keterangan langsung sejumlah peserta, di antaranya Mat Laput (callsign YE8TZ), serta delegasi ORARI dari Palu dan Gorontalo yang hadir di lokasi acara.
ORARI adalah organisasi resmi bagi penggiat radio amatir di Indonesia, yang secara rutin menyelenggarakan kegiatan seperti kontes, special event station, dan silaturahmi antaranggota untuk mengasah keterampilan komunikasi radio. Kegiatan tersebut biasanya mengikuti pedoman organisasi serta regulasi teknis penggunaan frekuensi radio. (turn0search2
)
Kontroversi Dimulai: Grup WA dan Nama Panitia Disorot
Kontroversi bermula pada Juli 2025 melalui grup WhatsApp bernama “Tarsius Field Day”. Grup ini dikelola oleh panitia yang menjadi pusat sorotan peserta, yaitu:
Hariyanto Miolo (YB8RLC) — Ketua ORARI Lokal Bitung
Rafli Panigoro (YC8RHW) — Ketua Panitia
Vino — Koordinator Lomba
Eskan Mosa — Sekretaris
Moh Solihin — Bendahara
Kelima nama ini disebut oleh peserta sebagai pihak yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan event yang kemudian memicu banyak kritik.
Informasi Peserta Tidak Sesuai Kerja Lapangan
Menurut keterangan Mat Laput (YE8TZ), informasi yang semula disampaikan panitia tentang lomba dan kegiatan terstruktur tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Banyak peserta merasa format acara berubah secara sepihak, termasuk metode lomba yang diperselisihkan serta pengurangan fasilitas yang dijanjikan sebelumnya. Karena itu, sebagian peserta kemudian memilih mundur sebelum lomba dimulai dan menuntut pengembalian biaya pendaftaran.
Mat Laput menyatakan bahwa peserta merasa “tidak mendapat pelayanan yang layak dan transparan” meskipun sudah membayar biaya pendaftaran. Menurutnya, panitia menolak permintaan pengembalian dana dengan alasan dana telah digunakan seluruhnya demi kebutuhan acara.
Balai Monitoring Turun Tangan
Kegiatan ini juga memancing perhatian Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon) Kelas II Manado. Kepala Balmon, Manuelson Jaka Jusuf, S.T., M.Telnet.Eng., hadir untuk memberikan pengarahan teknis dan menegaskan larangan praktik yang berpotensi menimbulkan interferensi, termasuk penggunaan mode tumpuk sinyal tanpa izin teknis. Balmon juga mencatat adanya pemancaran frekuensi yang sempat mengganggu jalur komunikasi penerbangan di sekitar Bandara Sam Ratulangi, sehingga Balmon memberikan peringatan keras kepada panitia untuk menghentikan praktik yang berisiko terhadap keselamatan publik.
Dana, Pendaftaran, dan Fasilitas yang Dipersoalkan
Sekitar satu minggu sebelum kegiatan, panitia mewajibkan peserta mentransfer biaya pendaftaran sebesar Rp100.000 per antena, yang kemudian terkumpul sekitar Rp12.600.000 dari total peserta. Namun, mekanisme pendaftaran ini dinilai tidak profesional karena dilakukan tanpa bukti administrasi yang jelas.
Selain itu, peserta juga mengeluhkan fasilitas dasar yang buruk di lokasi acara — mulai dari tenda yang tidak layak, kamar mandi dan WC yang kotor, hingga ketiadaan air bersih dan gayung. Beberapa peserta bahkan terpaksa menggunakan tempurung kelapa untuk mengambil air, sebuah kondisi yang dianggap mencerminkan kurangnya persiapan panitia meskipun dana telah terkumpul.
Hadiah Dipangkas, Kritik Meningkat
Jumlah hadiah yang semula disepakati dalam rapat teknis juga dipangkas secara sepihak tanpa penjelasan resmi kepada peserta, menambah kekecewaan peserta yang merasa diabaikan dalam proses evaluasi dan penilaian lomba.
Reaksi Anggota ORARI Sulawesi Utara dan Daerah Lain
Kemarahan atas jalannya event ini tak hanya datang dari peserta lokal. Sejumlah anggota ORARI Sulawesi Utara berharap agar konflik ini tidak melibatkan Ketua ORARI Daerah Sulut, karena menurut mereka beliau tidak mengetahui secara utuh apa yang terjadi di balik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Mereka mengharapkan agar Ketua ORDA Sulut dapat berperan sebagai mediator untuk menyelesaikan sengketa terkait pengembalian dana peserta secara adil.
Delegasi ORARI Palu, dipimpin oleh Ketua ORARI Lokal Palu, Muchtar Munir, menyatakan bahwa pengalaman mereka di Bitung tidak mencerminkan standar kegiatan komunikasi radio amatir yang layak dan berbeda dari informasi awal yang disampaikan panitia.
Pimpinan delegasi Gorontalo, Ibu Henny Tantu (Bendahara ORDA Gorontalo), juga menyayangkan jalannya kegiatan dan berharap agar event serupa di masa mendatang direncanakan lebih matang untuk tidak merugikan peserta dari daerah lain. Ia menegaskan bahwa tindakan panitia telah mencoreng wajah anggota amatir radio Sulawesi Utara, dan panitia patut meminta maaf kepada Ketua ORDA Sulut yang tidak mengetahui masalah ini secara penuh.
Dalam pernyataan bersama, anggota amatir radio Sulawesi Utara dan peserta lainnya memohon maaf kepada komunitas ORARI di seluruh Indonesia atas polemik yang timbul dari kegiatan yang awalnya diharapkan berjalan positif.
Situasi Hingga Saat Ini
Hingga berita ini diterbitkan, para peserta termasuk Mat Laput (YE8TZ) masih menunggu respons panitia terkait pengembalian dana pendaftaran dan klarifikasi menyeluruh atas seluruh tuduhan yang muncul. Kasus ini kini menjadi perhatian serius karena menyangkut integritas organisasi ORARI, kepatuhan terhadap regulasi frekuensi radio, keselamatan publik, serta kepercayaan anggota terhadap pengurus organisasi di masa mendatang.




