POHUWATO

LSM Labrak Nilai Tim YR Paling Konsisten Perbaiki Sungai Pohuwato

MBharGoNews.com – Konsistensi Tim YR dalam melakukan normalisasi sungai yang terdampak sedimentasi dinilai sebagai aksi nyata yang menghidupkan kembali harapan pemulihan lingkungan di Kabupaten Pohuwato.

Di tengah keluhan panjang masyarakat terkait pendangkalan sungai, kerja lapangan yang dilakukan selama beberapa pekan terakhir menjadi bukti bahwa persoalan lingkungan tidak bisa berhenti pada wacana dan keluhan semata.

Pendiri LSM Labrak, Sonni Samoe, menyebut langkah Tim YR sebagai bentuk kerja penyelamatan lingkungan yang lahir dari kepedulian lokal. Ia menilai aksi tersebut patut diapresiasi karena dilakukan secara konsisten dan tanpa menunggu intervensi pihak lain.

“Apa yang dilakukan Tim YR adalah kerja penyelamatan. Mereka tidak menunggu, mereka turun langsung. Ini bukti bahwa kepedulian lokal masih hidup,” ujar Sonni, Selasa (10/2/2026).

Meski demikian, Sonni menegaskan bahwa kerusakan lingkungan di wilayah hulu bukan disebabkan oleh satu pihak saja. Menurutnya, berbagai aktivitas telah berkontribusi terhadap meningkatnya sedimentasi sungai.

Namun di tengah kondisi tersebut, Tim YR dinilai sebagai satu-satunya kelompok yang secara konsisten kembali melakukan pembenahan dengan mengeruk sedimentasi.

“Kita harus jujur melihat situasi. Kerusakan terjadi bersama. Tapi yang konsisten memperbaiki hanya Tim YR. Itu patut diapresiasi,” tegasnya.

Sonni menekankan bahwa tanggung jawab memperbaiki kondisi lingkungan jauh lebih penting daripada sekadar mencari pihak yang bersalah. Ia berharap upaya normalisasi sungai yang dilakukan Tim YR dapat menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat Pohuwato.

Sonni juga mengingatkan bahwa masa depan daerah sangat bergantung pada solidaritas sosial. Pengelolaan wilayah, menurutnya, tidak boleh terus-menerus bergantung pada campur tangan pihak luar.

“Jika elemen lokal bersatu, kita punya kekuatan untuk mengatur wilayah kita sendiri. Pohuwato tidak boleh terus terpecah oleh kepentingan luar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sonni menegaskan bahwa sumber daya alam Pohuwato harus dikelola secara adil, terencana, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat lokal dengan tetap menghargai kelestarian lingkungan.

“SDA Pohuwato harus menyejahterakan rakyat Pohuwato. Tidak boleh semrawut dan tidak boleh ada yang dikorbankan. Ini soal masa depan bersama,” katanya.

Meski mengapresiasi langkah normalisasi sungai, Sonni mengingatkan bahwa upaya tersebut tidak bisa dijadikan rutinitas tanpa solusi yang serius di wilayah hulu. Ia menilai persoalan utama sedimentasi terletak pada tata kelola aktivitas pertambangan.

Untuk itu, Sonni mendorong penerapan kebijakan pemblokiran area sedimentasi di wilayah tambang, yakni zona penahanan lumpur agar material sedimen terkumpul di bagian atas sebelum masuk ke aliran sungai.

“Memblokir sedimen itu bukan memindahkan masalah, tetapi memusatkan pengendalian. Sedimen dikumpulkan di atas, tidak terlanjur masuk ke sungai,” jelasnya.

Dengan sistem tersebut, pengerukan sedimentasi menjadi lebih terfokus pada satu titik pengendalian di hulu, bukan tersebar di sepanjang aliran sungai.

Menurut Sonni, pola ini justru memudahkan pelaku usaha tambang dalam melakukan normalisasi karena kerusakan tidak lagi menyebar.

“Kalau sedimen sudah terkendali di hulu, pengerukan juga berakhir di sana. Sungai tidak jadi korban, dan penambang tidak kerepotan mengejar lumpur yang sudah telanjur mengalir ke mana-mana,” ujarnya.

Sonni menilai tata kelola seperti ini tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menciptakan efisiensi ekonomi serta menertibkan aktivitas pertambangan agar lebih bertanggung jawab.

Aksi Tim YR kini dipandang sebagai simbol bahwa Pohuwato masih memiliki peluang untuk memperbaiki diri. Upaya tersebut menyalakan kembali keyakinan bahwa lingkungan dapat dipulihkan, selama solidaritas sosial dibangun dan tata kelola wilayah dibenahi secara serius.

“Yang kita perlukan bukan pembersihan sesaat. Tetapi sistem yang memastikan sungai kita tetap hidup untuk hari esok,” tutupnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button