Tragedi di Tambang Alamotu: Delapan Warga Pohuwato Terpapar Malaria, Satu Korban Meninggal

MBharGoNews.com – Sebanyak delapan warga Kabupaten Pohuwato diduga tertular penyakit malaria setelah beraktivitas di kawasan pertambangan emas Alamotu, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato.
Dari delapan warga tersebut, satu orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Informasi yang dihimpun para warga yang terpapar malaria tersebut diketahui merupakan penambang emas yang bekerja di kawasan Alamotu.
Korban meninggal diketahui berinisial SA, warga Dusun Banjar, Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato.
SA disebut pulang ke kampung halamannya dalam kondisi sakit sebelum akhirnya meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.
“Yang meninggal ini jaga ba jet di Alamotu. Semua ada delapan orang, dua orang yang kena, sisanya itu gejala, satu orang sudah meninggal,” ujar seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya kepada awak media, Rabu (24/6/2026).
Istri korban, Ningsih, mengatakan suaminya sempat mengalami demam tinggi, sakit kepala, dan menggigil sepulang dari lokasi tambang.
“Jadi suami saya meninggalnya di rumah sakit. Sebelumnya sempat kejang-kejang di rumah,” kata Ningsih saat ditemui di kediamannya di Dusun Banjar, Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat, Rabu.
Menurut Ningsih, sebelum meninggal dunia, suaminya sempat mendapatkan suntikan karena kondisinya sempat membaik.
Namun, karena merasa sudah sehat, korban kembali naik ke lokasi tambang.
“Setelah turun dari tambang, suami saya panas, sakit kepala dan dingin. Sebelumnya sempat disuntik, karena merasa sehat dia naik lagi ke tambang. Saat pulang ke rumah, tidak lama kemudian suami saya langsung kejang-kejang seperti orang tidak tenang dan ingin lari, sehingga harus ditahan warga,” ungkapnya.
Karena kondisi korban semakin mengkhawatirkan, pihak keluarga kemudian membawa SA ke puskesmas.
“Sesampainya di puskesmas, suami saya langsung terdiam. Karena khawatir, saya meminta rujukan ke rumah sakit. Belum berapa menit di UGD dan kemudian dipindahkan ke ICU, suami saya meninggal dunia,” tuturnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato hingga Kamis (25/6/2026) belum membuahkan hasil.
Awak media telah dua kali mendatangi kantor Dinas Kesehatan untuk menemui Wasor penanggung jawab program malaria, Lia Saud. Namun, yang bersangkutan tidak berada di kantor.
Selain itu, upaya konfirmasi melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp juga belum mendapatkan tanggapan.
Kasus ini kembali menjadi sorotan publik karena dinilai belum ada penyelesaian maupun tindak lanjut yang jelas dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato, termasuk tim yang sebelumnya telah dibentuk untuk menangani persoalan tersebut.
Sejumlah pihak pun berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah serius guna mencegah penyebaran malaria lebih luas, terutama di kawasan pertambangan yang diduga menjadi sumber penularan.




