POHUWATOUncategorized

Paguat, Masihkah Pantas Disebut Sebagai Kota Industri

M’Bhargo,Pohuwato-Paguat  merupakan kota tua sekaligus merupakan pintu masuk ke Kabupaten Pohuwato dari arah ibukota Provinsi Gorontalo

Pada awal awal Pemerintahan Definitip  Kabupaten Pohuwato dibawah pemerintahan Zainudin Hasan dan  Yusuf Giasi, wilayah Paguat dirancang dan ditetapkan untuk menjadi kawasan industri

Dalam sejarah ditetapkannya  Kecamatan Paguat sebagai  kawasan industri tersebut tidak  terlepas dari perjuangan para aktifis  Pemuda-Pemudi  Paguat-Dengilo (Dengilo saat itu masih termasuk wilayah Paguat), karena pada saat itu berhembus wacana Pemda Pohuwato yang akan membangun  kawasan industri didesa Teratai sampai dengan Desa  Bulangita sedangkan pelabuhan berada di Kecamatan Marisa

Dalam perjuangannya para pemuda aktifis Paguatyang menamakan diri Forum Bersama Pemuda Paguat (Forbes PP) tersebut rutin setiap minggunya  melakukan demonstrasi dan hal tersebut berlangsung sepanjang tahun 2006-2007

Gerakan yang begitu kompak dan sistematis dari para Aktifis Forbes PP tersebut tentunya membuat kesal dan gerah Pemerintah Daerah Pohuwato saat itu,  sehingga muncul pernyataan tokoh tokoh marisa kala itu, “Apa sebenarnya yang mereka (Paguat) inginkan”.

Selain peran pemuda  turut serta para  senior yang pada saat  waktu itu memainkan peran strategis, kata-kata doktrin para  senior yang masih kental diingatan kami sebagai yunior adalah  “biar Marisa sebagai pusat pemerintahan tapi ekonomi Pohuwato  kita (Paguat) yang kendalikan”,

Gerakan tersebut akhirnya  berbuuah manis  dengan beberapa  proyek proyek strategis yang dibangun di Paguat  seperti stadion olah raga,bandara, pelabuhan serta  penempatan kawasan industri di Pohuwato berada diwilayah Paguat dan semua masuk dalam RTRWK (Rencana Tata Ruang Kabupaten)

Dalam RTRWK waktu itu mengharuskan semua yang berbau industri di Kabupaten Pohuwato diharuskan berada diwilayah Paguat

Dalam perencanaannya Nantinya hasil olahan dari pabrik-pabrik tersebut setelah jadi akan dikapalkan melalui pelabuhan Paguat,

Dengan telah dirubahnya RTRWK sekarang ini ada beberapa pabrik yang dibangun dan telah beroprasi diluar Paguat, misalnya Biomasa di Popayato  dengan gudang barangnya yang berada  di Marisa serta shmelter merdeka di Buntulia.

Saat ini Perlu ada terobosan dan evaluasi dari pemuda Paguat terkait dengan nasib pelabuhan Paguat  yang pembamgunannya memakan anggaran ratusan miliyaran rupiah dan serta  keberadaan kawasan industri.

Jika dibandingkan Pelabuhan Paguat dan   dengan Pelabuhan swasta yang  baru dibangun di Desa Trikora Popayato , pelabuhan Paguat kalah jauh dengan ramainya bongkar muat di pelabuhan swasta tersebut.

Pelabuhan di Paguat selama puluhan tahun tidak ada kemujan yang berarti,disini penulis  sekedar memberi masukkan masukan dan mengingatkan kembali sprit perjuangan dalam membangun Paguat kedepanya,

Dahulu sempat kita kumandangkan Paguat- Dengilo dan Mananggu jadi kotamadya bahkan saat ini yunior dan senior  Forbes PP masi lengkap semua dan sekarang terangkum dalam grub watsab forbes, apakah cita-cita tersebut masih akan direalisasikan atau hanya menjadi mimpi

Catatan : Penulis merupakan salah seorang tokoh aktifis pemuda yang tergabung dalam Forbes P

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button