DAERAH

Ruas Jalan Terabaikan di Minahasa Utara: Warga Minta Perhatian Serius Pemerintah Kabupaten

M’Bhargo, Sulut (Minut)-Beberapa ruas jalan di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) masih terbengkalai dan tidak kunjung diperbaiki, menimbulkan kekecewaan warga. Sekjen Kibar Nusantara Merdeka,Johannis Missah, menyoroti kondisi jalan Sonsilo-Mubune di Kecamatan Likupang Barat yang rusak parah, bahkan disebut seperti “anak tiri” yang diabaikan oleh Pemerintah Kabupaten pimpinan Bupati Joune Ganda. Padahal, jalan ini vital untuk akses kesehatan dan ekonomi warga setempat .

 

Selain Sonsilo-Mubune, ruas jalan Wori-Kima Bajo dan Wusa-Warisa juga masuk daftar yang dianggap terabaikan. Ironisnya, Wori-Kima Bajo sempat diperbaiki setelah rusak akibat bencana alam pada 2023, namun kini kembali memprihatinkan. Warga menilai pembangunan infrastruktur tidak berkelanjutan, padahal Joune Ganda telah memimpin Minut selama dua periode .

 

Missah membandingkan lambannya respon Pemkab Minut dengan aksi cepat Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus (YSK). Contoh nyata adalah desa-desa tertinggal di Pulau Gangga, Talise, dan Mantehage yang kini menikmati listrik 24 jam berkat intervensi YSK. “Pemkab harus mencontoh Gubernur yang mendengar jeritan warga,” tegas Missah .

 

Di Likupang Barat, jalan Sonsilo-Mubune seharusnya menjadi prioritas karena menghubungkan 10 desa dan akses ke Puskesmas Mubune. Saat ini, warga harus memutar jauh ke Desa Batu untuk menghindari jalan berlubang. “Kondisi ini memperburuk biaya logistik dan waktu tempuh,” jelas missah

 

Musrenbang Kecamatan Likupang Barat pada Februari 2024 sebenarnya telah menetapkan jalan Sonsilo-Mubune sebagai usulan prioritas. Namun, hingga Juli 2025, realisasinya belum terlihat. Padahal, anggaran untuk proyek serupa seperti Screen House Modern di kecamatan itu mencapai Rp500 juta per unit .

 

Kritik juga datang dari warga Wori yang kecewa dengan kondisi jembatan penghubung ke Kima Bajo. Meski sempat diperbaiki pascabencana, infrastruktur ini dinilai tidak tahan lama. “Kami butuh solusi permanen, bukan sekadar tambal sulam,” protes Ulva, salah seorang warga .

 

Missah mendesak Pemkab Minut untuk segera menindaklanjuti laporan warga. “Jangan sampai pembangunan hanya fokus pada event nasional seperti Munas APKASI, sementara kebutuhan dasar rakyat diabaikan,” tegasnya, merujuk pada acara besar yang digelar di Minut baru-baru ini .

 

Harapan warga kini tergantung pada komitmen Bupati Joune Ganda untuk merealisasikan janji pembangunan merata. Jika tidak, dikhawatirkan ketimpangan infrastruktur akan semakin melebar, mengubur harapan desa-desa terpencil untuk maju seperti Gangga yang kini bersinar terang oleh listrik 24 jam .(**)

 

( TIM)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button