DAERAH

Banjir di Olimohulo : infrastruktur Gagal Fungsi,Akses Jalan dan Rumah Terendam Banjir

M’Bhargo, Gorontalo (Kabgor)- Kami selaku perwakilan masyarakat Desa Olimohulo, Kecamatan Asparaga, dengan ini melaporkan situasi terkini yang terjadi di wilayah kami pada hari Selasa, 19 Mei 2026, yang kembali dilanda bencana banjir. Kejadian ini berulang kembali disebabkan oleh luapan air yang sangat besar, di mana plat deker atau saluran pembuangan air utama yang ada saat ini sama sekali sudah tidak mampu lagi menampung debit air yang turun dari hujan maupun aliran sungai. Akibat ketidakmampuan infrastruktur tersebut, air meluap begitu saja melewati pinggiran saluran dan langsung masuk membanjiri pemukiman warga tanpa ada penghalang yang berfungsi sebagaimana mestinya. Banjir yang merendam rumah-rumah warga tersebut diperkirakan mulai terjadi dan naik dengan cepat pada pukul 12.30 WITA, saat debit air mencapai titik tertinggi dan meluap ke pemukiman.

Kondisi yang kami alami saat ini sangat memprihatinkan dan menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Karena air tidak tertampung di saluran yang seharusnya, aliran air merambah ke jalan-jalan desa, ladang pertanian, hingga masuk ke halaman dan ruang tamu rumah warga dengan sangat cepat dan tiba-tiba. Ketinggian air cukup signifikan dan arusnya terasa deras, membuat kami tidak bisa berbuat banyak selain berusaha mengamankan barang-barang berharga yang tersisa ke tempat yang lebih tinggi. Seluruh lingkungan pemukiman kami berubah menjadi seperti aliran sungai besar semata-mata karena saluran pembuangan yang dibangun pemerintah sudah gagal menjalankan fungsinya.

 

Akibat langsung dari meluapnya air tersebut, akses jalan utama yang menjadi satu-satunya penghubung warga menuju Kantor Desa dan beberapa sekolah di wilayah kami kini terputus total dan tidak bisa dilewati kendaraan maupun pejalan kaki. Kondisi ini membuat aktivitas pelayanan pemerintahan desa menjadi lumpuh sementara, anak-anak sekolah terpaksa tidak bisa belajar, serta menyulitkan pergerakan warga untuk keperluan mendesak. Ini adalah dampak yang selalu berulang kali kami alami setiap kali hujan turun cukup deras, namun tampaknya fakta bahwa akses warga terisolasi ini tidak menjadi perhatian serius bagi pihak yang berwenang.

 

Data dampak kerusakan yang kami catat untuk kejadian kali ini menunjukkan bahwa sebanyak 90 unit rumah warga terendam air, yang terdiri dari 132 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 393 orang yang terkena dampak langsung. Barang-barang rumah tangga rusak, perabotan terendam, peralatan masak dan pakaian menjadi kotor dan rusak, serta kondisi tempat tinggal menjadi lembap dan berbau lumpur. Kerugian materi ini terasa sangat berat bagi kami warga desa yang hidup sederhana, namun tampaknya penderitaan ini hanya dianggap sebagai laporan administrasi biasa saja, padahal kami kehilangan harta benda berulang kali tanpa ada solusi nyata.

 

Hal yang paling menyedihkan dan membuat kami kecewa adalah fakta bahwa kejadian ini bukanlah hal baru atau musibah satu kali saja, melainkan bencana rutin yang datang berulang kali setiap musim hujan. Sudah berkali-kali kami laporkan dan sampaikan bahwa ukuran serta kedalaman plat deker di sepanjang aliran Sungai Olimohulo sudah sempit, dangkal, dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan kapasitas air saat ini. Namun sampai hari ini, belum ada perubahan sedikit pun, belum ada perbaikan, belum ada pelebaran, seolah laporan-laporan kami hanya dianggap angin lalu yang tidak perlu ditindaklanjuti.

 

Pemerintah Desa dan Pemerintah Kecamatan Asparaga sejauh ini hanya mampu melakukan pemantauan dan berkoordinasi, namun kewenangan serta kemampuan anggaran yang sangat terbatas membuat mereka tidak dapat mengatasi akar masalah yang sebenarnya. Kami melihat bahwa koordinasi yang dilakukan hanya sebatas prosedur formalitas semata, hanya datang melihat lalu pergi, tanpa menghasilkan perubahan apa pun di lapangan. Kami mulai mempertanyakan, sampai kapan kami harus menunggu dan terus menderita, apakah harus sampai ada korban jiwa baru pemerintah bergerak menangani saluran air yang sudah jelas-jelas rusak dan tidak berfungsi ini?

 

Kami sangat sadar bahwa air bah adalah kuasa Tuhan, namun dampak buruk yang kami rasakan saat ini murni akibat kelalaian manusia dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur umum. Sungai Olimohulo dan saluran pembuangan ini sebenarnya sangat bisa dikeruk, diperlebar, dan diperkuat bantaran tebingnya agar mampu menampung debit air besar, namun rencana atau anggaran untuk hal tersebut seolah-olah tidak pernah ada di dalam perencanaan pembangunan daerah kami. Kami merasa keberadaan kami di pinggiran tidak dianggap, padahal kami juga warga negara yang berhak mendapatkan perlindungan dari risiko bencana yang sebenarnya bisa dicegah.

 

Melalui laporan ini, kami kembali menyampaikan jeritan hati kami agar masalah banjir di Desa Olimohulo ini tidak lagi hanya dicatat sebagai laporan rutin di meja dinas. Kami tidak hanya meminta bantuan darurat yang sifatnya sementara dan habis dalam sehari, tetapi kami menuntut solusi jangka panjang dan tuntas: perbaikan total plat deker, normalisasi aliran sungai, dan pembangunan infrastruktur yang kapasitasnya memadai. Kami sudah sangat lelah selalu kehujanan di dalam rumah, lelah selalu merugi, dan lelah menunggu janji-janji yang tak kunjung terealisasi.

 

Demikian laporan keluhan dan gambaran situasi yang sebenarnya kami sampaikan dengan harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Gorontalo akhirnya membuka mata dan hati melihat penderitaan kami yang berlarut-larut ini. Jangan biarkan Desa Olimohulo terus menjadi langganan banjir hanya karena kurangnya perhatian dan tindakan nyata yang tertunda bertahun-tahun. Kami berhak hidup aman, nyaman, dan terlindungi, serta berhak mendapatkan fasilitas umum yang layak. Atas perhatian dan tindak lanjut yang sungguh-sungguh demi keselamatan kami semua, kami ucapkan terima kasih.

 

*Mbharghonewscom*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button