Titipkan Rindu ke Sungai Motoduto: Untuk Sumitra & Akbar yang Telah Tenang di Sisi-Nya

M’bhargo, Gorontalo -Air sungai bisa mengalir dan jernih kembali, tapi duka di hati keluarga tidak pernah surut. Lima bulan telah berlalu sejak musibah itu merenggut dua nyawa tercinta, namun nama Sumitra Isini dan Akbar Diyangi masih selalu disebut dalam setiap doa keluarga di Desa Motoduto.
*Dokumentasi awak media, Jumat 25 Juni 2026 pukul 17.45 WITA*, merekam momen haru seorang pria di tepi Sungai kecil Motoduto. Dialah Rony Diyangi, Kakak dari Alm. Sumitra Isini sekaligus Paman dari Alm. Akbar Diyangi. Dengan wajah penuh rindu, ia menatap aliran air yang menjadi saksi bisu kepergian dua orang yang ia sayangi.
Tempat itu kini terasa begitu sunyi. Dulu, di titik yang sama, tawa dan kepanikan bercampur menjadi satu saat musibah hanyut terjadi. Kini yang tersisa hanya gemercik air dan isak yang ditahan seorang paman, yang datang bukan untuk mencari, tapi untuk melepas rindu yang tak sempat terucap.
“Ini tempat terakhir saya melihat mereka. Di sini, adik saya dan keponakan saya dipanggil Sang Pencipta,” ucap Rony lirih. Tangannya menggenggam seikat bunga yang ia taburkan perlahan ke permukaan sungai. Setiap kuntum bunga seolah membawa sepenggal kenangan yang belum sempat ia kubur dalam-dalam.
Bagi Rony, Sungai Motoduto bukan lagi sekadar aliran air. Tempat ini telah menjadi makam tanpa nisan, menjadi tempat ia berdialog dengan orang-orang yang ia cintai. Ia datang sore itu, karena rindu tidak mengenal waktu, dan doa tidak butuh alasan selain hati yang pecah.
Sumitra Isini, seorang kakak yang dulu selalu menjadi sandaran. Akbar Diyangi, keponakan yang masih punya banyak mimpi. Keduanya pergi bersamaan, meninggalkan luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata. Yang tertinggal hanyalah nama, kenangan, dan air mata keluarga.
Sambil menengadah ke langit yang mulai jingga, Rony memanjatkan doa panjang. Ia memohon agar kedua almarhum ditempatkan di sisi Sang Maha Kuasa, di tempat yang jauh lebih indah dari dunia ini. “Semoga kalian tenang di sana. Maafkan Paman yang tidak bisa menjaga kalian lebih lama,” bisiknya di antara tetes air mata.
Musibah ini menjadi pengingat bagi seluruh warga Motoduto. Bahwa sungai yang terlihat tenang bisa menyimpan bahaya, dan bahwa kehilangan bisa datang tanpa permisi. Namun dari duka itu, lahir doa, lahir kekuatan, dan lahir janji untuk saling menjaga agar tidak ada lagi keluarga yang merasakan sakit yang sama.
Sore itu Rony pulang dengan hati yang masih berat, tapi sedikit lebih lega. Karena rindu sudah ia titipkan ke Sungai Motoduto. Untuk Sumitra dan Akbar, dua malaikat kecil keluarganya, yang kini telah tenang di sisi-Nya. Al-Fatihah.
*🌏Mbargonewscom*




