Uncategorized

Lapas KelasIIA Gorontalo Lakukan Evaluasi Pertriwulan Pendidikan Keaksaraan Dasar bagi Warga Binaan

MBharGoNews.com, Gorontalo – Memasuki Triwulan Pertama Program Pendidikan Keaksaraan Dasar (pengentasan buta huruf) dengan metode pembelajaran Aku Cepat Membaca (ACM) Plus yang diagendakan dengan durasi total pembelajaran 120 Jam dengan rata rata setiap pertemuan selama 60 menit atau 1 jam mulai dilakukan oleh penyelenggara dan penanggung jawab dalam hal ini Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Gorontalo.

Diawal penyelenggaraan program pembinaan khusus pengentasan buta aksara. Lapas Kelas IIA Gorontalo mempercayakan Ropi Oktavianto selaku Kasubsi Bimaswat ditunjuk sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan keaksaraan dasar, serta Rusli Usman dan Alfian Ismail ditunjuk sebagai Penanggung jawab pelaksana.

Ropi Oktavianto menjelaskan bahwa sejak awal Desember 2021, program pendidikan keaksaraan dasar ini di launching, dan hingga bulan Februari ini telah memasuki triwulan pertama. Maka kami, selaku penanggung jawab mulai melakukan evaluasi terkait hasil capaian pembelajaran yang telah didapatkan oleh WBP maupun strategi pengembangan kurikulum pembelajaran yang dilakukan oleh tenaga pendidik/mentor, serta ketersediaan sarana prasarana pembelajaran untuk mendukung suksesnya kegiatan ini.

Pada dasarnya, kata Ropi, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Gorontalo memiliki andil untuk mendidik warga binaannya untuk menjadi lebih baik lagi.

Hal ini, menurut Ropi, berdasarkan amanat UU Pemasyarakatan dan PP 31 Tahun 1999 tentang pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan, dan salah satu bentuknya adalah memberikan hak layanan dasar dalam bentuk pembinaan pendidikan bagi warga binaan pemasyarakatan yang belum melek aksara atau buta aksara yang dikemas dalam bentuk Program Pendidikan Keaksaraan Dasar, dan ini adalah amanat Undang-undang.

Selanjutnya, Rusli Usman melakukan pengamatan dan evaluasi terhadap 25 orang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang mengikuti kegiatan Pendidikan Keaksaraan Dasar, diruang pendidikan pada Senin,07/02/22.

“Secara umum mereka telah dapat melakukan praktek membaca, menulis dan menghitung, tinggal tersisa 5 hingga 7 orang yang masih membutuhkan treatment khusus agar dapat dipacu lagi kemampuan membaca dan menulisnya”, ujar Rusli yang diamini oleh Adam Dumbi selaku salah satu mentor diprogram ini.

Tentunya semua ini, kata Rusli, berkat kerjasama dan kerja keras dari para pendidik/mentor. Olehnya, kami sampaikan apresiasi bagi tenaga pendidik yang terus berupaya mensukseskan program pembinaan pendidikan dasar buta aksara ini.

“Masih tersisa waktu di triwulan kedua sesuai dengan tuntutan kurikulum, agar para warga binaan dapat benar-benar mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya, sehingga benar-benar mahir membaca, menulis, dan juga menghitung”, pungkasnya.

Sumber : Lapas KelasIIA Gorontalo

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button