DAERAH

Menjadi Manusia Paripurna: Refleksi Anggota DPR atas Tapak Awal Anak Bangsa di Era Digital

M’bhargo, Gorontalo (Bolihohito)-Kelulusan bukanlah titik. Ia adalah koma panjang dalam kalimat kehidupan yang baru saja dimulai. Di sanalah, pada malam apresiasi siswa-siswi kelas 6, kita tidak hanya menyaksikan serah terima ijazah, melainkan sedang menyaksikan sebuah ritus peralihan dari anak-anak yang diasuh menuju insan muda yang bersiap memikul tanggung jawab zamannya. Inilah tapak awal anak bangsa menuju predikat manusia paripurna.

Bertempat di halaman MIN 1 Kabupaten Gorontalo, Desa Iloheluma, Kecamatan Boliyohuto, Rabu 10 Juni 2026 pukul 20.35 WITA, prosesi itu berlangsung khidmat. Di bawah langit Boliyohuto, hadir jajaran penting Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Gorontalo, Kepala Seksi Madrasah, para kepala sekolah MI se-Boliyohuto, para staf dewan guru, serta para orang tua yang matanya menyimpan bangga sekaligus cemas akan masa depan putra-putrinya.

Anggota DPR Provinsi Gorontalo, Syarifudin Bano, http://S.Sos, yang hadir mewakili suara orang tua, menyebut malam itu sebagai gelar prestasi yang sesungguhnya. Baginya, acara ini melampaui seremoni tahunan. Ini adalah pengakuan publik bahwa proses mendidik adalah kerja peradaban yang hasilnya baru bisa dituai belasan tahun kemudian.

Acara ini bisa terlaksana berkat dukungan orang tua tegas Syarifudin. Kalimat itu sederhana, namun menyimpan dialektika mendasar sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Tri Pusat Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara keluarga, sekolah, masyarakat kembali menemukan relevansinya di era digital yang kerap menggerus batas dan peran.

Di sinilah refleksi eksistensial itu muncul. Lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Nigeri bukan sekadar mampu membaca, Menulis dan berhitung. Ini adalah fase ketika seorang anak mulai dibentuk untuk menjadi. Menjadi manusia yang tahu batas baik-buruk, hormat kepada yang tua, dan berani bertanggung jawab atas dirinya. Guru, dalam sunyi bilik kelas selama 6 tahun, sejatinya sedang menempa logos dan ethos sekaligus.

Syarifudin secara khusus menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada para tenaga pendidik. Mereka menjadikan Anak-anak Dari tidak bisa apa-apa, sampai bisa membaca, menulis, mengetahui mana yang baik dan buruk, serta hormat kepada orang tua dan guru. Di era disrupsi ini, peran tersebut menjadi semakin berat. Guru kini tidak hanya melawan ketidak tahuan tetapi juga melawan algoritma yang menawarkan kenikmatan instan tanpa nilai.

Maka, kelulusan ini adalah kontrak sosial baru. Orang tua tidak boleh lepas tangan setelah anak menamatkan MIN Justru di sinilah tugas kedua dimulai mengawal mereka menuju MTs atau SMP dengan karakter yang sudah ditempa. Negara melalui madrasah telah memberi fondasi, keluarga harus melanjutkan bangunannya. Tanpa itu, kita hanya mencetak sarjana yang cerdas otaknya namun kering jiwanya.

Malam itu, prestasi bukan hanya milik juara kelas. Penghargaan diberikan kepada siswa-siswi yang unggul di Pramuka, sepak bola, tenis meja, hingga Peraturan Baris-Berbaris. Ini adalah penegasan bahwa manusia paripurna tidak lahir dari satu ukuran. Ada yang cemerlang nalarnya, ada yang tangguh raganya, ada yang disiplin barisannya. Semua adalah wajah Indonesia masa depan.

 

Sebagai orang tua saya sangat bangga dengan prestasi yang di miliki oleh Anak-anak saat ini. namun ia membawa beban etis. Sebab tugas Guru dan orang tua sama memastikan tapak awal ini tidak berhenti di halaman madrasah. Ini harus menjadi jalan panjang menuju Indonesia yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga matang secara Agama. Itulah makna terdalam dari menjadi manusia paripurna. Tutup Aleg Propinsi Dari Partai DEMOKRAT Dapil Boliyohuto Cs dan Pulubala-Tibawa

 

*M’Bhargonewscom*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button