Pembeli Hilang, Transaksi Turun: Penertiban Tambang Pukul Pedagang Pasar Marisa

MBharGoNews.com – Aktivitas perdagangan di Pasar Rakyat Marisa, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi setelah adanya penertiban aktivitas pertambangan di wilayah sekitar yang selama ini turut menopang perputaran ekonomi pasar.
Sebagaimana pantauan oleh awak media di lokasi, pada Rabu (14/1/2026) sore, sekitar pukul 16.00 hingga 17.30, menunjukkan suasana pasar tampak sepi. Sejak memasuki area gerbang hingga ke bagian dalam pasar, sejumlah lapak pedagang terlihat minim pembeli, berbeda dengan kondisi normal yang biasanya ramai menjelang sore hari.
Bahkan beberapa pedagang mengaku, situasi ini mulai dirasakan sejak aktivitas pertambangan dihentikan. Salah satunya Yul, pedagang rempah-rempah, yang menyebut penurunan jumlah pembeli terjadi cukup drastis.
“Sejak aktivitas pertambangan dorang tertibkan, sangat berdampak skali pa torang,” ujar Yul saat ditemui di lapaknya.
Menurut Yul, selama ini sebagian besar pembeli rempah-rempah berasal dari kalangan penambang. Mereka biasanya berbelanja dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa hari di lokasi tambang.
“Penambang kalau beli rempah-rempah itu dorang beli banyak, sampe kiloan. Itu untuk kebutuhan dorang selama di lokasi tambang,” jelasnya.
Yul memperkirakan, pendapatan hariannya menurun hingga 40–50 persen. Kondisi tersebut berbeda ketika pasar hanya mengandalkan pembeli dari kalangan ibu rumah tangga yang cenderung berbelanja sesuai kebutuhan harian.
“Kalau ibu rumah tangga belanjanya sedikit-sedikit. Beda dengan penambang yang biasa ba belanja borongan,” katanya.
Selain itu, Yul juga menyebut tidak lagi melihat lalu lalang ojek tambang yang sebelumnya kerap datang berbelanja ke pasar untuk memenuhi pesanan para penambang.
Keluhan serupa disampaikan Alan Polumulo, pedagang telur di Pasar Rakyat Marisa. Ia mengaku pendapatannya ikut terdampak sejak para penambang tidak lagi beraktivitas di pasar.
“Sangat terasa penurunannya. Sejak awal pekan ini penambang sudah tidak kelihatan lagi di pasar,” ujar Alan.
Sebelumnya, kata Alan, pembelian telur oleh penambang dilakukan dalam jumlah besar, bahkan ia kerap mengantarkan langsung pesanan ke kendaraan pembeli.
“Kalau kemarin itu saya sampe antar telur ka oto pa dorang. Satu kali turun ka pasar itu bisa borong sampai 10 bak, bahkan ada yang sampai 20 bak,” ungkapnya.
Alan pun menambahkan, sejak adanya kabar penertiban aktivitas pertambangan, suasana pasar mulai berubah dan kini semakin sepi. Yang awalnya ramai.
“Dari hari Senin itu sudah mulai sunyi. Sekarang so dapa rasa ey,” pungkas Alan.
Kondisi tersebut membuat para pedagang berharap adanya perhatian dan solusi dari pihak terkait agar aktivitas ekonomi di Pasar Rakyat Marisa dapat kembali beraktivitas dan roda perdagangan masyarakat tetap berjalan.




