Tangisan Ibu di RSUP Kandou Manado Picu Desakan Reformasi Layanan Kesehatan

Manado, MBharGoNews.com – Sebuah video mengharukan yang memperlihatkan seorang ibu menangis karena kekecewaan terhadap pelayanan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado viral di media sosial. Video tersebut memicu kemarahan dan simpati publik, serta mendatangkan desakan dari berbagai pihak agar dilakukan reformasi besar-besaran dalam sistem pelayanan rumah sakit pemerintah.
Dalam video berdurasi singkat yang pertama kali diunggah akun Lambe Kawanua, sang ibu dengan suara bergetar menyampaikan ucapan terima kasih penuh ironi kepada pihak rumah sakit. Ia menyiratkan bahwa perlakuan buruk yang diterima anaknya selama dua bulan perawatan meninggalkan luka mendalam. “Makase banya ngoni so beking bagini pa kita pe anak, makase banya… Tuhan berkati pa ngoni…,” ucapnya pilu, yang langsung menyita perhatian publik.
Tanggapan keras datang dari Ketua LSM Independen Nasionalis Anti Korupsi (INAKOR) Sulawesi Utara, Rolly Wenas. Dalam keterangannya, Wenas menilai tangisan ibu tersebut merupakan representasi dari krisis sistemik dalam pelayanan rumah sakit pemerintah.
“Ini bukan semata-mata curahan hati seorang ibu, tapi cerminan dari buruknya tata kelola pelayanan kesehatan. Kami minta Menteri Kesehatan segera mencopot Direktur Utama RSUP Kandou karena telah gagal menjamin hak-hak pasien,” tegas Wenas.
LSM-INAKOR juga tengah mengumpulkan bukti-bukti terkait kemungkinan adanya kelalaian medis, pelanggaran hak pasien, hingga potensi penyimpangan anggaran dalam pengadaan alat kesehatan. Jika ditemukan unsur pidana, mereka berencana melaporkannya ke pihak berwenang sesuai Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
Kasus ini memicu diskusi luas di kalangan warganet dan masyarakat umum, banyak di antaranya turut berbagi pengalaman serupa. Seruan audit menyeluruh terhadap sistem manajemen RSUP Kandou pun menggema, mencerminkan keinginan publik agar pelayanan kesehatan di Indonesia menjadi lebih manusiawi, transparan, dan profesional.
Kini, sorotan tertuju pada Kementerian Kesehatan. Publik menanti langkah konkret, bukan sekadar respons normatif. Masyarakat berharap tragedi serupa tidak terulang, dan tangisan seorang ibu bisa menjadi titik balik dalam reformasi layanan rumah sakit di tanah air.
( Kaperwil Sulut Jansen Rarung)




