Taufik Buhungo Desak Kapolda: Hentikann dan Tangkap Pelaku PETI Pasir Putih

M’Bhargo, Gorontalo -Aktivis Gorontalo, Taufik Buhungo mendesak Kapolda Gorontalo untuk segera *menghentikan dan menangkap para pelaku PETI di Pasir Putih, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo*. Desakan itu disuarakan lantaran aktivitas tambang ilegal tersebut dinilai telah merusak ekosistem dan mengancam kehidupan masyarakat.
Aksi penyampaian pendapat itu digelar pada Kamis, 3 September 2026 pukul 12.26 WITA di depan Mako Polda Gorontalo. Aksi tersebut diikuti oleh *kurang lebih 200 warga petani yang terdampak*, yang berasal dari *Desa Payu dan Desa Helumo, Kecamatan Mootilango*.
Dalam orasinya, Taufik menegaskan bahwa negara tidak boleh kalah oleh segelintir orang yang mengeksploitasi alam demi keuntungan pribadi. Ia menyebut Pasir Putih kini seperti “luka terbuka” di dada Gorontalo yang dibiarkan terus menganga.
“Saudara-saudara, hari ini kita berdiri bukan karena benci. Kita berdiri karena cinta. Cinta pada tanah yang menumbuhkan padi, cinta pada air yang menghidupi sawah, cinta pada anak cucu kita yang berhak mewarisi bumi yang tidak rusak,” ucap Taufik dengan suara lantang.
Lebih lanjut ia mengibaratkan PETI sebagai “kanker” yang menggerogoti tubuh Gorontalo dari dalam. “PETI ini seperti kanker. Kalau tidak dipotong sejak dini, maka satu demi satu organ kehidupan kita akan mati. Sawah kita, sungai kita, masa depan kita,” tegasnya.
Taufik juga menyoroti dampak langsung dari aktivitas PETI terhadap pertanian. Ia merujuk pada berita sebelumnya terkait penutupan “peti” saluran air yang membuat 1.009 hektare sawah di Mootilango terancam gagal panen. “Ini bukan soal tambang. Ini soal perut rakyat. Ini soal kedaulatan pangan. Jangan sampai lumbung kita mati karena keserakahan segelintir orang,” katanya.
Dengan nada tajam, Taufik bahkan menambahkan desakan agar aparat tidak hanya menyasar pelaku di lapangan. “Kami minta Kapolda juga tangkap oknum-oknum yang diduga membekingi. Karena selama masih ada beking, maka PETI ini tidak akan pernah mati. Hukum harus sama di mata rakyat kecil maupun di mata cukong,” desaknya.
Ia menutup orasinya dengan menantang komitmen penegak hukum. “Kami tidak butuh janji. Kami butuh tindakan. Hentikan mesin-mesin itu. Tangkap otaknya. Tangkap bekingnya. Jangan biarkan hukum menjadi tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” ujarnya di hadapan aparat yang berjaga.
“Ingat, sejarah tidak akan mencatat siapa yang diam saat alam dirusak. Sejarah hanya akan mencatat siapa yang berdiri dan melawan. Dan hari ini, kita memilih untuk berdiri,” pungkasnya disambut tepuk tangan ratusan massa.
Menanggapi aspirasi tersebut, *pihak Polda Gorontalo menyatakan akan menindaklanjuti terkait aspirasi maupun aduan* yang disampaikan para pengunjuk rasa. Polda memastikan akan melakukan pendalaman dan penegakan hukum sesuai prosedur yang berlaku.
`
Redaksi M’Bhargonews.com*




