POHUWATO

Tak Tinggal Diam Hadapi Kemarau Panjang, YR TIM Kolaborasi Perluas Bantuan Air Bersih

MBharGoNews.com – Ancaman kekeringan di Gorontalo semakin serius. Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dan bahkan berpotensi mundur hingga Februari 2027 akibat pengaruh fenomena El Niño.

Kondisi ini menjadi alarm bagi masyarakat dan pemerintah. Pasalnya, sejumlah wilayah di Gorontalo telah mengalami periode tanpa hujan yang cukup panjang, sehingga ancaman krisis air bersih semakin nyata.

Berdasarkan analisis BMKG Gorontalo, sebagian besar wilayah Gorontalo mulai memasuki musim kemarau sejak Juni hingga Juli 2026. Puncak musim kemarau mayoritas wilayah terjadi pada Agustus 2026.

Tak hanya berlangsung panjang, sebaran kemarau juga menunjukkan kondisi yang cukup ekstrem.

Hasil analisis Stasiun Klimatologi mencatat, panjang musim kemarau di Gorontalo bervariasi antara 11 hingga 25 dasarian.

Wilayah timur seperti Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Gorontalo Utara bahkan masuk kategori ekstrem, yakni mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Sementara itu, Kabupaten Pohuwato dan Boalemo masuk kategori sangat panjang dengan periode tanpa hujan berkisar 31 hingga 60 hari.

Kondisi tersebut membuat status siaga kekeringan meteorologis diberlakukan secara menyeluruh di wilayah Gorontalo.

Di tengah ancaman tersebut, gerakan kemanusiaan mulai diperkuat. Yayasan Rakyat Tunas Indonesia Maju (YR TIM) Kolaborasi bersama AHS Centre, FRM Foundation, IMM, HMI, PMII, Karang Taruna, KNPI, serta sejumlah wartawan turun langsung mendistribusikan air bersih kepada masyarakat.

Koordinator Lapangan YR TIM Kolaborasi, Zufrin Harun, menegaskan pihaknya tidak akan berhenti selama masyarakat masih menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.

“Kami pastikan, distribusi air bersih ini akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Ini merupakan bagian dari upaya YR TIM Kolaborasi membantu pemerintah dalam meminimalisir krisis air bersih,” ungkap Zufrin, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, kondisi kemarau panjang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Persoalan air bersih, kata dia, tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

Karena itu, YR TIM Kolaborasi mengajak pemerintah kecamatan hingga desa untuk ikut mengambil bagian dalam penanganan krisis air bersih di wilayah masing-masing.

“Kami mengajak semua pihak, termasuk pemerintah kecamatan dan desa. Jika ada armada yang tersedia, kami YR TIM Kolaborasi akan siapkan tandon air yang nantinya siap dipakai untuk mendistribusikan air bersih di masing-masing wilayah,” jelasnya.

Zufrin berharap kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan bantuan sehingga masyarakat yang terdampak kekeringan tidak kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas, relawan, media, dan masyarakat menjadi kunci menghadapi ancaman kemarau panjang yang berpotensi berlangsung hingga awal 2027.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button